Keheningan ini menyatu dengan sunyi di ruangan yg berisi serpihan sesal,, Sementara kata telah kehabisan huruf untuk penulisnya,, Langitpun seakan tahu dengan memandangku penuh pilu,, Kepada siapakah guratan luka menuntut penebusan? Apakah pada semilir angin yang tak kenal henti menerpa alam? Atau pada deburan ombak yg terus menghantam tepian karang? Ataukah pada rembulan malam yang akan segera bertandang? Tidak, dia hanya diam dan menjelma sunyi sarat rintihan,, Kini, Perlahan aku tersadar bahwa akulah yg telah menggores luka,, Sebab telah mengizinkan separuh jiwaku pergi bersama harap,, Senjaku, 18 September 2022